31 Mei 2013

Muslim itu



Muslim itu kuat
Bukan sepanjang hari bertampang melarat
Ditambah hati yang karat
Akumulasinya hanya bermaksiat

Muslim itu semangat
Tak akan takut dengan hujat
Tak takut juga dengan musuh nyata terlihat
Walau yang menghampiri sekalipun adalah maut

Muslim itu taat
Suasana hati selalu dekat
Dekat kepada Allah yang maha Melihat
Apa-apa yang diperbuat
Selalu menjadi panutan tanpa maksiat
Ketika jatuh ia cepat bangkit
Melawan arus meskipun sekarat
Cinta rabbnya selalu lekat
Yang membuat ia selalu berharga di tengah umat.

30 Mei 2013

Sanjungan buat Ayah

Sajak kering ku sampaikan
buat yang terlewat hampir beberapa saat
yang mungkin terbelenggu kala hati ini menjauh
yang bisa jadi tersiksa ketika ruh ini meregang lebar dariNya

hari ini, ku tahu jika dia semakin rapuh bila ada
hidup, bahkan sempat ku berasumsi, terbangun oleh dirinya dan ya, dia bersujud
lalu, para malaikat pun berjejer dengan saf nya yang rapat
mendengar bahwa rintihan seorang manusia untuk manusia
tak menyentuh jiwa yang satu..
bahkan merapuh, apa daya.
dia hanya seorang peminta,
peminta yang tulus kepada Tuhannya.

Malam terlewat sebentar lagi
ku tahu, ku semakin dicintai olehNya ketika menjauh dari kursi-kursi itu
Semakin tampan, jelas, tak perlu diragukan
Semakin sehat, kuat dan pintar, tak perlu dirisaukan
Namun, imbalan-imbalan itu ku tukar
untuk malam ini, khususkan utk mmberi sebait catatan Allah kepadanya
kepadanya yang merindu untuk dingat
yang merindu untuk di doa.

28 Mei 2013

Muhasabah di waktu yang singkat



Tepat dua hari yang lalu, sehabis melepas lelah sejenak setelah pulang dari Jakarta untuk menemani kakak, saya melanjutkan aktifitas dengan mengikuti rapat evaluasi kegiatan yang telah dilaksanakan sabtu kemarin. Bergegas mandi, shalat ashar, dan menuju tempat berteduh di tepi jalan untuk menunggu angkot ke kampus. Ada dua pilihan jalur angkot untuk menuju pintu depan kampus. Kita dapat memilih jalur ciampea dan kampus dalam. Karena sulitnya mendapati angkot kampus dalam, maka saya memilih angkot dengan jalur ciampea. Lumayan, tidak perlu menunggu lama. Beberapa menit setelah menunggu, angkot biru tampak reot menghampiriku dengan cepat. Naluri supirnya luar biasa. Sejauh ini tak ada yang luar biasa, naik dan duduk pada tempat duduk berhadapan dengan penumpang dan membelakangi supir. Di dalam angkot yang mungkin membawa saya selama 15 menit untuk sampai ke kampus, saya memperhatikan para penumpang. Semuanya lelaki dan umurnya sekitar 50an ke atas. Perhatianku satu persatu kepada mereka, dan saya merenungi beberapa hal berikut.

Bapak dengan sandal warna orange, dengan ujung kukunya tampak lecet. Umurnya sekitar 60 tahun. Tampak seperti pekerja bangunan, karena tangannya masih kelihatan ada tanah dan terlihat kurang bersih.  Tampak lesu dan tak bergairah. Saya berandai ketika saya diposisinya sekarang, dengan umur yang tidak muda, masih bekerja keras dan mungkin tidak tahu apa bisa memberi makan keluarganya hari ini apa tidak. Saya tidak bisa membayangkan bagaimana hidup bapak tadi sewaktu muda, apakah ada usaha yang tidak maksimal, atau memang telah menyia-nyiakan banyak waktu untuk hal tak berguna?

Waktu laksana pedang. Jika engkau tidak menggunakannya, maka ia yang malah akan menebasmu. Dan dirimu jika tidak tersibukkan dalam kebaikan, pasti akan tersibukkan dalam hal yang sia-sia.” (Ibnu Qayyim)

Bapak dengan baju agak lusuh, melihatku dengan agak aneh. Umurnya sekitar 55 tahun. Tidak jauh keadaannya dengan bapak tadi, menggunakan sandal dengan merk yang sama, namun dengan warna berbeda. Biru. Namun beliau juga membisu sama halnya dengan bapak tadi. Namun pekerjaannya mungkin adalah seorang pekerja lepas. Saya memperhatikan, apakah dalam diamnya dia masih mengingat siapakah yang mengatur alur nafasnya hingga saat ini? Apakah karena keadaanya seperti ini, miskin harta, akan jauh dari Allah? Akan jauh dari menyebut asmaNya?

 “Maka ingatlah Aku, niscaya Aku akan mengingat kalian.” (Q.S al-Baqarah:152)

Walau harta tak mampu kita dapatkan di dunia, minimal kita masih bisa menikmati harta akhirat, membelinya dengan Iman yang kokoh dan selalu mengingatNya dikala lapang.
Bapak yang menjadi supir angkot tersebut.  Dengan sigap mengendalikan angkot tua menuju kampus. Dengan melihat ke depan, menginjak panel gas dan rem dengan teratur, memainkan tangan pada setir dan memindahkan perseneling untuk mengatur kecepatan angkot pun dibuatnya mudah. Pelajaran yang dapat diambil adalah bagaimana kita sebagai makhluk Allah yang paling sempurna, dapat dengan tepat mengendalikan diri ketika berbagai masalah yang datang. Ini bukan masalah pada problem yang akan kita hadapi, tetapi bagaimana respon dan sikap kita menghadapi  masalah tersebut secara bijak dan tepat, dan pastinya bernilai ibadah kepada Allah. Dengan memanfaatkan shalat dan sabar sebagai penolong

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya”.(Al-Baqarah: 45-46)

dan bersyukur atas semua cobaan yang telah dilalui, meski hasilnya itu buruk untuk kita. Buruk untuk kita, belum tentu buruk untuk Allah.  Lagipula, jika kita bersyukur apapun keadaan yang terjadi pada kita sekarang, insya Allah nikmat yang diberikan kepada kita akan bertambah, walau nikmat tersebut kelak terakumulasi di akhirat nanti.

”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (Q.S.Ibrahim:7)

15 Mei 2013

APEL BUSUK



Sempat terkantuk karena tidurnya cuma beberapa jam, pagi dimulai dengan subuh berjamaah, kemudian membaca surat cintaNya. Alhamdulillah, nikmat ini bertumbuh begitu cepat, harus selalu bersyukur, apapun situasinya.

Evaluasi hari kemarin, bisa dibilang produktif. Beberapa "checklist" terlaksana. Mudah-mudahan keikhlasan senantiasa berbarengan dengan aktifitas kemarin, jadi bukan lelah saja sebagai efek samping, tapi pahala dariNya adalah efek utama yang dicari. Namun, ternyata ada aktifitas kemarin yang secara tidak langsung menabur kebencian terhadap sesama. Astagfirullah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang tak terlihat ini.
Terlepas dari siapa yang benar dan yang salah, menjadi sangat penting menjelaskan masalah antara kedua pihak yang saling membenci satu sama lain, apalagi jika masalah itu dibiarkan berkembang semakin rumit dan lebih sulit solusinya.  Tentu, banyak dari manusia tidak ingin kondisi seperti ini. Musuh dimana-mana. Kampus ada musuh, mall ada musuh, pasar  juga ada musuh. Ya, semuanya dimusuhi bila perlu, jika dalam hati tidak ada lagi mental sebagai seorang pemaaf.

Sempat browsing dan baca mengenai ayat Al Quran yang berkaitan dengan kata maaf. Berikut kutipannya.

“Jadilah engkau pribadi yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Araf (7): 199)

Rasulullah sebagai kiblatnya akhlak manusia adalah seorang pemaaf. Peristiwa Fathul makkah (Pembebasan kota makkah) sebagai contohnya. Tatkala kota tersebut dikuasai kaum muslimin, kaum Quraisy pun takut akan pembalasan yang “mungkin” akan dilakukan oleh Rasulullah sebagai pemimpin pada saat itu. Dalam hal ini kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sofyan mendatangi Rasulullah untuk meminta pengampunan. Namun apa yang terjadi? Bukan bentakan dan cacian yang diberikan Rasul, melainkan memaafkan kaum Quraisy tanpa syarat apapun.  Subhanallah. Maha suci Engkau ya Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna akhlak.

Analogi sederhanapun tercipta, ketika membeli sekilo apel misalnya, dan ditaruh dalam satu plastik. Apel di dalam plastik itu diusahakan dibawa kemana-mana setiap hari. (Jangan dimakan ya.. :-)). Sehari, apel tersebut masih dalam keadaan segar. Layak dikonsumsi. Hari kedua, mungkin bisa dikonsumsi. Hari ketujuh? Ketigapuluh? Ternyata apel telah membusuk dan mungkin akan menabur aroma tak sedap bagi yang dekat dengan si pembawa apel. Dengan peluang bernilai 1 (pasti), si pemilik apel ini keluar dari zona nyaman. Orang disekitarnya pun demikian, merasa tidak nyaman dan mencium bau busuk dari si pembawa apel tersebut. Solusinya taktis, ya apelnya harus dibuang.
Begitulah rasa benci, penyakit hati yang dianalogikan sebagai apel busuk. Hanya memberi ketidaknyamanan dalam diri, menarik banyak musuh, dan mengalihkan fokus yang seharusnya tidak berlabuh pada penyakit itu. Solusinya adalah dibuang, dengan cara memaafkan. Rasulullah sebagai teladan saja seperti itu, pernah didzolimi dan membalasnya dengan memaafkan tanpa syarat, apalagi pengikutnya. Ikhlaskan hati untuk membuang benci dengan memaafkan. Insya Allah, berkah Allah akan mengikuti kemanapun pergi. Apalagi derajat yang Allah berikan untuk pemaaf yang ikhlas mendekati taqwa, bahkan surgapun merindukan orang-orang seperti ini.

“Dan jika kamu memaafkan, itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 237).