Sempat terkantuk karena tidurnya cuma beberapa jam, pagi dimulai
dengan subuh berjamaah, kemudian membaca surat cintaNya. Alhamdulillah, nikmat
ini bertumbuh begitu cepat, harus selalu bersyukur, apapun situasinya.
Evaluasi hari kemarin, bisa dibilang produktif. Beberapa
"checklist" terlaksana. Mudah-mudahan keikhlasan senantiasa
berbarengan dengan aktifitas kemarin, jadi bukan lelah saja sebagai efek
samping, tapi pahala dariNya adalah efek utama yang dicari. Namun, ternyata ada
aktifitas kemarin yang secara tidak langsung menabur kebencian terhadap sesama.
Astagfirullah. Mudah-mudahan Allah mengampuni dosa yang tak terlihat ini.
Terlepas dari siapa yang benar dan yang salah, menjadi
sangat penting menjelaskan masalah antara kedua pihak yang saling membenci satu
sama lain, apalagi jika masalah itu dibiarkan berkembang semakin rumit dan
lebih sulit solusinya. Tentu, banyak
dari manusia tidak ingin kondisi seperti ini. Musuh dimana-mana. Kampus ada
musuh, mall ada musuh, pasar juga ada
musuh. Ya, semuanya dimusuhi bila perlu, jika dalam hati tidak ada lagi mental sebagai
seorang pemaaf.
Sempat browsing dan baca mengenai ayat Al Quran yang
berkaitan dengan kata maaf. Berikut kutipannya.
“Jadilah engkau pribadi yang pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan kebajikan serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-Araf (7): 199)
Rasulullah sebagai kiblatnya akhlak manusia adalah seorang
pemaaf. Peristiwa Fathul makkah (Pembebasan kota makkah) sebagai contohnya.
Tatkala kota tersebut dikuasai kaum muslimin, kaum Quraisy pun takut akan
pembalasan yang “mungkin” akan dilakukan oleh Rasulullah sebagai pemimpin pada
saat itu. Dalam hal ini kaum Quraisy dipimpin oleh Abu Sofyan mendatangi
Rasulullah untuk meminta pengampunan. Namun apa yang terjadi? Bukan bentakan
dan cacian yang diberikan Rasul, melainkan memaafkan kaum Quraisy tanpa syarat
apapun. Subhanallah. Maha suci Engkau ya
Allah mengutus Nabi Muhammad SAW sebagai penyempurna akhlak.
Analogi sederhanapun tercipta, ketika membeli sekilo apel
misalnya, dan ditaruh dalam satu plastik. Apel di dalam plastik itu diusahakan
dibawa kemana-mana setiap hari. (Jangan dimakan ya.. :-)). Sehari, apel tersebut masih
dalam keadaan segar. Layak dikonsumsi. Hari kedua, mungkin bisa dikonsumsi.
Hari ketujuh? Ketigapuluh? Ternyata apel telah membusuk dan mungkin akan
menabur aroma tak sedap bagi yang dekat dengan si pembawa apel. Dengan peluang
bernilai 1 (pasti), si pemilik apel ini keluar dari zona nyaman. Orang
disekitarnya pun demikian, merasa tidak nyaman dan mencium bau busuk dari si
pembawa apel tersebut. Solusinya taktis, ya apelnya harus dibuang.
Begitulah rasa benci, penyakit hati yang dianalogikan
sebagai apel busuk. Hanya memberi ketidaknyamanan dalam diri, menarik banyak
musuh, dan mengalihkan fokus yang seharusnya tidak berlabuh pada penyakit itu.
Solusinya adalah dibuang, dengan cara memaafkan. Rasulullah sebagai teladan
saja seperti itu, pernah didzolimi dan membalasnya dengan memaafkan tanpa syarat, apalagi pengikutnya. Ikhlaskan hati untuk membuang benci
dengan memaafkan. Insya Allah, berkah Allah akan mengikuti kemanapun pergi.
Apalagi derajat yang Allah berikan untuk pemaaf yang ikhlas mendekati taqwa,
bahkan surgapun merindukan orang-orang seperti ini.
“Dan jika kamu memaafkan, itu lebih dekat kepada taqwa.” (QS. Al-Baqarah [2]: 237).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar