Kullu nasfsin dzaaaiqotul mauut, wa nab'luukum bissyarri wal khoiri fitnah, wa ilainaa turja'un. (QS Al Anbiya: 35). Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.
Salah satu surat di dalam Al Qur'an yang begitu populer, jika dalam suatu interval waktu, kita dihadapkan dalam cobaan itu. Tentu ekspektasinya, cobaan itu bukan menimpa diri kita, tetapi orang lain. Bagaimana tidak, amal belum apa-apa, sudah dijemput paksa oleh malaikat Izrail. Tidak ada tawar menawar, tidak ada komunikasi terlebih dahulu, dan celakanya, tidak memandang usia, jabatan, profesi, dan lain lain. Muda, tua, tampan, cantik, presiden, ulama sekalipun tak dapat melobi malaikat menunda pekerjaan itu, titah Allah yang sudah ditulis di lauhul Mahfudz.
Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Jika dilihat dari konteks biologis, yang memiliki nyawa, termasuk hewan, dan tumbuhan akan mati. Suatu proses yang tidak diinginkan oleh beberapa makhluk yang tak siap bekal untuk pulang ke kampung akhirat yang kekal. Suatu proses dimana sangat diinginkan oleh sejumlah makhluk, sangat dinanti. Bagaimana tidak, bekal dapat dikatakan cukup, bertemu dengan Kekasih sejati, yang selama ini hanya diimajinasi, hanya tertutup oleh beda alam. Namun, cinta Kekasih sejatinya itu dimana-mana selama makhluk itu di dunia. Pertemuan yang indah, bahkan lebih indah dari dunia dan seisinya, gundah gulanapun hilang, mendapat balasan cinta di surgaNya.
Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kalimat yang merupakan peringatan, bahwa bukan keburukan saja sebagai penanda bahwa kita sedang diuji, namun kebaikanpun adalah ujian. Ya, namanya ujian, hanya ada dua keluaran setelahnya, lulus atau tidak lulus. Bagi yang pernah kuliah, lulus semua ujian pada setiap tahapan, akan disematkan titel padanya ketika wisuda, dan terjadi sebaliknya, jika tidak lulus, harus belajar lebih keras untuk bisa lulus dan mendapatkan titel itu. Jika masih tidak lulus? DO yang dikenal. Analogi sederhana, ujian dalam hiduppun seperti itu, ada yang mudah, dan ada yang sulit, mudah itu setara dengan keburukan, sulit itu setara dengan kebaikan. Ini pendapat pribadi ya. Keburukan mudah sekali direpresentasikan sebagai sebuah ujian yang mudah, misalnya seseorang tidak shalat, bahkan orang lainpun tahu bahwa itu adalah cobaan/ujian kepada si fulan. Sebaliknya, ujian kebaikan adalah ujian tersulit. Ketika seseorang melakukan kebaikan, namun dalam hati tidak ada niat ikhlas hanya untuk Allah, niatnya ini itu, maka sia-sia apa yang dikerjakan si fulan. Orang lain tidak ada yang tahu, cuma Allah. Jadi ingat hadist pertama dalam hadist Arbain an Nawawi, setiap perbuatan tergantung niatnya. Ikhlas, mungkin ini kata kunci untuk berbuat kebaikan. Ikhlas karena Allah, pekerjaan apapun itu, insya Allah berkah di dunia dan akhirat. Pada akhirnya ketika seseorang lulus dalam kedua ujian tersebut, titel tertinggi adalah termasuk golongan orang-orang bertakwa.
Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami. Akhiran ayat yang menjadikan simpulan dari dua ayat sebelumnya, apapun keadaan kita sekarang, kita akan kembali hanya kepada Allah dan itu adalah keniscayaan. Diri suci dititipkan di dunia, mengalami ujian, dan akhirnya kembali ke pangkuan Allah, tidak tahu dalam keadaan masih suci atau tidak. Pilihan ada ditangan kita, menjadi orang yang sering berbuat kebaikan dengan keikhlasan, atau sering berbuat buruk, juga dengan keikhlasan. Pilih mengakhiri cinta suci ini dengan baik atau buruk?
Semoga kita digolongkan ke dalam orang-orang yang beruntung (Al Ashr: 3).
06 Mei 2013
03 Mei 2013
Muhasabah di Jumat yang Agung
Alhamdulillah, saya mempunyai sahabat-sahabat yang baik dan selalu menasehati dikala hati ini sedang jauh dari Allah.
Begitu pula setiap jum'at, sebelum shalat jum'at dilaksanakan, ada khatib menyampaikan khutbah. Namun khutbah jum'at ini begitu berkesan, dan membuat mata ini tak terpejam sedikitpun. Kesannya takut dan membuat otak ini memutar kembali dosa-dosa yang telah diperbuat di masa lampau.
Astagfirullahalazhim..
Disampaikan bahwa salah seorang sahabat rasul bernama muadz bin jabal bertanya kepada Rasulullah tentang Qu'ran surat an-naba ayat 18: "Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris." (QS. An-Naba': 18)
Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah menangis. Lalu menjawab: "Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris."
Barisan Pertama
Mereka digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kedua
Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Ketiga
Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Keempat
Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kelima
Mereka digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Keenam
Mereka igiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Ketujuh
Mereka digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kedelapan.
Mereka digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kesembilan.
Mereka digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kesepuluh
Mereka digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kesebelas.
Mereka digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kedua Belas
Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: "Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhoan Allah Yang Maha Pengasih..." (http://mutiara-fiqh.blogspot.com/2012/11/12-barisan-di-padang-mahsyar.html)
Jika saya meninggal hari-hari kemarin, saya sudah termasuk dalam beberapa golongan diatas kecuali barisan kedua belas. Astagfirullah, begitu mudah setan bermain dalam hati ini, sehingga banyak yang terlalai, banyak yang tak termanfaatkan, dan banyak penyakit hati lainnya yang hampir dalam tingkat kompleks.
Mudah-mudahan postingan ini bisa terus mengingatkan saya dan kepada para sahabat dan teman-teman saya, bahwa tiada barisan yang lebih baik selain barisan kedua belas, yang ada padanya adalah pancaran cahaya, cahaya ilahi.
Saya mohon maaf jika ada kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja kepada sahabat-sahabat saya. Insya Allah, kita akan selalu saling mengingatkan untuk perbaikan diri ke depan. Jangan pernah takut menegur saya jika ada salah.. Syukran jiddan sekali lagi kepada sahabat-sahabat yang telah menasehati dan memberikan penguatan bahwa proses apa saja harus tetap dinikmati, dengan memperbanyak amal ibadah untuk memperbaiki kualitas diri.
Begitu pula setiap jum'at, sebelum shalat jum'at dilaksanakan, ada khatib menyampaikan khutbah. Namun khutbah jum'at ini begitu berkesan, dan membuat mata ini tak terpejam sedikitpun. Kesannya takut dan membuat otak ini memutar kembali dosa-dosa yang telah diperbuat di masa lampau.
Astagfirullahalazhim..
Disampaikan bahwa salah seorang sahabat rasul bernama muadz bin jabal bertanya kepada Rasulullah tentang Qu'ran surat an-naba ayat 18: "Pada saat sangkakala ditiup, maka kamu sekalian datang berbaris-baris." (QS. An-Naba': 18)
Mendengar pertanyaan itu, Rasulullah menangis. Lalu menjawab: "Wahai Muadz, engkau telah bertanya kepadaku, perkara yang amat besar, bahwa umatku akan digiring, dikumpulkan berbaris-baris."
Barisan Pertama
Mereka digiring dari kubur dengan tidak bertangan dan berkaki. Keadaan mereka ini dijelaskan melalui satu seruan dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang-orang yang sewaktu hidupnya menyakiti hati tetangganya, maka demikianlah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kedua
Digiring dari kubur berbentuk babi hutan. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih: "Mereka itu adalah orang yang sewaktu hidupnya meringan-ringankan sholat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Ketiga
Mereka berbentuk keledai, sedangkan perut mereka penuh dengan ular dan kala jengking. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang enggan membayar zakat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Keempat
Digiring dari kubur dengan keadaan darah seperti air pancuran keluar dari mulut mereka. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang berdusta di dalam jual beli, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kelima
Mereka digiring dari kubur dengan bau busuk dari bangkai. Ketika itu Allah menurunkan angin sehingga bau busuk itu mengganggu ketenteraman di Padang Mahsyar. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang menyembunyikan perlakuan durhaka takut diketahui oleh manusia tetapi tidak pula merasa takut kepada Allah, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Keenam
Mereka igiring dari kubur dengan keadaan kepala mereka terputus dari badan. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang menjadi saksi palsu, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Ketujuh
Mereka digiring dari kubur tanpa mempunyai lidah tetapi dari mulut mereka mengalir keluar nanah dan darah. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang enggan memberi kesaksian di atas kebenaran, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kedelapan.
Mereka digiring dari kubur dalam keadaan terbalik dengan kepala ke bawah dan kaki ke atas. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang berbuat zina, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kesembilan.
Mereka digiring dari kubur dengan berwajah hitam gelap dan bermata biru sementara dalam diri mereka penuh dengan api gemuruh. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka itu adalah orang yang makan harta anak yatim dengan cara yang tidak sebenarnya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kesepuluh
Mereka digiring dari kubur mereka dalam keadaan tubuh mereka penuh dengan penyakit sopak dan kusta. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang durhaka kepada orang tuanya, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kesebelas.
Mereka digiring dari kubur mereka dengan berkeadaan buta mata-kepala, gigi mereka memanjang seperti tanduk lembu jantan, bibir mereka melebar sampai ke dada dan lidah mereka terjulur memanjang sampai ke perut mereka dan keluar beraneka kotoran. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih : "Mereka adalah orang yang minum arak, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah neraka..."
Barisan Kedua Belas
Mereka digiring dari kubur dengan wajah yang bersinar-sinar laksana bulan purnama. Mereka melalui titian sirat seperti kilat. Maka, datanglah suara dari sisi Allah Yang Maha Pengasih memaklumkan: "Mereka adalah orang yang beramal saleh dan banyak berbuat baik. Mereka menjauhi perbuatan durhaka, mereka memelihara sholat lima waktu, ketika meninggal dunia keadaan mereka sudah bertaubat, maka inilah balasannya dan tempat kembali mereka adalah syurga, mendapat ampunan, kasih sayang dan keridhoan Allah Yang Maha Pengasih..." (http://mutiara-fiqh.blogspot.com/2012/11/12-barisan-di-padang-mahsyar.html)
Jika saya meninggal hari-hari kemarin, saya sudah termasuk dalam beberapa golongan diatas kecuali barisan kedua belas. Astagfirullah, begitu mudah setan bermain dalam hati ini, sehingga banyak yang terlalai, banyak yang tak termanfaatkan, dan banyak penyakit hati lainnya yang hampir dalam tingkat kompleks.
Mudah-mudahan postingan ini bisa terus mengingatkan saya dan kepada para sahabat dan teman-teman saya, bahwa tiada barisan yang lebih baik selain barisan kedua belas, yang ada padanya adalah pancaran cahaya, cahaya ilahi.
Saya mohon maaf jika ada kesalahan yang disengaja ataupun tidak disengaja kepada sahabat-sahabat saya. Insya Allah, kita akan selalu saling mengingatkan untuk perbaikan diri ke depan. Jangan pernah takut menegur saya jika ada salah.. Syukran jiddan sekali lagi kepada sahabat-sahabat yang telah menasehati dan memberikan penguatan bahwa proses apa saja harus tetap dinikmati, dengan memperbanyak amal ibadah untuk memperbaiki kualitas diri.
12 Desember 2011
Yang terindah...
Semakin bertambah hari ini, semakin aku menuju titik limit itu..
Semakin ku berhitung, entah berapa amal yang sudah ku tampung..
Semakin tinggi pengali dosa, hanya bisa dikurangkan dengan sujud-sujud itu..
Yang tertatih, berjalan kaki, dan berlari menuju lintasan kenikmatan sesaat..tak tahu berpangkat melarat..
Yang terindah menjadi deret diveregen, tak jelas konvergenya..
Limit tak ada, namun nyatanya limit superior dan inferior jelas ada..itulah penggali dosa..
Keterbatasan fikiran terbentuk, dan menjadi tak seluas volume alam..
22 tahun yang terlewat, tak sesuper para Imam di umur itu..
Bak fungsi monoton turun, semangat pun itu..
22 tahun yang bagaimana? Bukti yang mana? Teoritik, terdidik dan apik, padahal belum tentu baik..
Sungguh tak ingin ku menuju batas limit itu sebelum Kau berikan dispensasi kepadaku
Nyata tak mau ku dekat dengan dia..
Namun,
Apakah ku harus terbatas di tempat itu? Apakah tidak boleh kupanjangkan sumbu-sumbu itu?
Allah Maha Besar, terbayang tidak, begitu banyak bilangan rasional tapi ukurannya cuma nol?
Imajinasikanlah, bahwa "tak terhingga" akan macet kalau bertemu dengan pengali nol?
Dia selalu bisa menemukan epsilon terkecil walaupun para pakar jadi koloni kekar..
Semakin yakin, bahwa matahari pun mendukung untuk bangkit..
Hijrah..sikap yang buta tanpa makna menjadi dewasa tanpa keluh kesah..
Transformasi..yang bijektif..tak ada dualisme sikap buruk + baik menjadi satu..
Yang terindah..yang dirasa..
Alhamdulillah ya Allah, Sedangkal pahalaku tetap meminta yang terbaik..
Penuhi undanganku di setiap gelombang nadiku..
Detik, menit, jam dan besok,
Semakin dewasa, semakin bijaksana, bermakna bagi sesama..
Bantu aku wujudkan itu ya Allah..Amiin
Semakin ku berhitung, entah berapa amal yang sudah ku tampung..
Semakin tinggi pengali dosa, hanya bisa dikurangkan dengan sujud-sujud itu..
Yang tertatih, berjalan kaki, dan berlari menuju lintasan kenikmatan sesaat..tak tahu berpangkat melarat..
Yang terindah menjadi deret diveregen, tak jelas konvergenya..
Limit tak ada, namun nyatanya limit superior dan inferior jelas ada..itulah penggali dosa..
Keterbatasan fikiran terbentuk, dan menjadi tak seluas volume alam..
22 tahun yang terlewat, tak sesuper para Imam di umur itu..
Bak fungsi monoton turun, semangat pun itu..
22 tahun yang bagaimana? Bukti yang mana? Teoritik, terdidik dan apik, padahal belum tentu baik..
Sungguh tak ingin ku menuju batas limit itu sebelum Kau berikan dispensasi kepadaku
Nyata tak mau ku dekat dengan dia..
Namun,
Apakah ku harus terbatas di tempat itu? Apakah tidak boleh kupanjangkan sumbu-sumbu itu?
Allah Maha Besar, terbayang tidak, begitu banyak bilangan rasional tapi ukurannya cuma nol?
Imajinasikanlah, bahwa "tak terhingga" akan macet kalau bertemu dengan pengali nol?
Dia selalu bisa menemukan epsilon terkecil walaupun para pakar jadi koloni kekar..
Semakin yakin, bahwa matahari pun mendukung untuk bangkit..
Hijrah..sikap yang buta tanpa makna menjadi dewasa tanpa keluh kesah..
Transformasi..yang bijektif..tak ada dualisme sikap buruk + baik menjadi satu..
Yang terindah..yang dirasa..
Alhamdulillah ya Allah, Sedangkal pahalaku tetap meminta yang terbaik..
Penuhi undanganku di setiap gelombang nadiku..
Detik, menit, jam dan besok,
Semakin dewasa, semakin bijaksana, bermakna bagi sesama..
Bantu aku wujudkan itu ya Allah..Amiin
23 September 2011
Make "phase plane" with maple
Assalamualaikum..
Hi blogger mania..how are you? I want to share how to make phase plane with maple. I make it because I was studying about maple alone, maybe it can be used in my department, IPB for mathematical modelling in second grade. Here the script :
restart:
> with(DEtools):
> with(plots):
>
> e1 := diff(x(t), t) = x(t)+y(t):
> e2 := diff(y(t), t) = 4*x(t)-2*y(t):
>
> sis := {e1, e2};
>
> nullcline := eval(sis, {x(t) = x, y(t) = y, diff(x(t), t) = 0, diff(y(t), t) = 0}):
> map(isolate, nullcline, y):
> window := x = -5 .. 5, y = -4 .. 4:
>
> A1 := DEplot(sis, [x(t), y(t)], t = -1 .. 1, window, arrows = medium):
> A2 := display(map(implicitplot, nullcline, window, color = GREEN, thickness = 3)):
>
> display({A1, A2});
And this is the phase plane..

Before I stopped it, I say thanks to Mr. Ali Kusnanto as my lecturer, for giving a good explanation about differential equation..
See you next time !!
Hi blogger mania..how are you? I want to share how to make phase plane with maple. I make it because I was studying about maple alone, maybe it can be used in my department, IPB for mathematical modelling in second grade. Here the script :
restart:
> with(DEtools):
> with(plots):
>
> e1 := diff(x(t), t) = x(t)+y(t):
> e2 := diff(y(t), t) = 4*x(t)-2*y(t):
>
> sis := {e1, e2};
>
> nullcline := eval(sis, {x(t) = x, y(t) = y, diff(x(t), t) = 0, diff(y(t), t) = 0}):
> map(isolate, nullcline, y):
> window := x = -5 .. 5, y = -4 .. 4:
>
> A1 := DEplot(sis, [x(t), y(t)], t = -1 .. 1, window, arrows = medium):
> A2 := display(map(implicitplot, nullcline, window, color = GREEN, thickness = 3)):
>
> display({A1, A2});
And this is the phase plane..
Before I stopped it, I say thanks to Mr. Ali Kusnanto as my lecturer, for giving a good explanation about differential equation..
See you next time !!
Langganan:
Postingan (Atom)